Sering kali, seorang saya ingin menyerah di kala sedang berjuang. Sering kali seorang Rizkika merasa dirinya belum melakukan apa-apa. Sering kali, lupa mencintai diri sendiri dan enggan berterima kasih pada diri sendiri. Sering kali, membandingkan diri ini dengan pencapaian orang lain. Sering kali, merasa apa yang ditanam ingin dipanen.
Padahal hidup bukan perihal mengambil apa yang kita tebar. Terlalu pamrih akan hal-hal kecil dan tanpa disadari rasa pamrihnya dibuat daftar oleh diri sendiri. Setelah dibuat daftar lalu munculah sebuah harapan. Parahnya harapannya sering sekali diarahkan kepada manusia. Padalah berharap paling menyakitkan adalah berharap kepada manusia.
Saat ini mulai sadar akan keadaan, ternyata hidup memang tidak untuk saling mendahului. Kita yang tidak suci masih bisa dan halal kok untuk memberi. Kita juga harus berusaha untuk mengobati walau membiru. Kadang ketika kita merasa diri kita kering, kita masih bisa untuk saling membasuh dengan hal-hal kecil.
Hal yang terpenting lainnya adalah, hanya diri kita yang sejatinya berhak mengevaluasi. Memang, orang lain juga berhak. Tapi, jangan memaksakan diri sndiri menjadi apa yang orang lain mau. Karena kamu hidup tidak untuk bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain, tapi diri kamu sendiri.
Poin lain yang harus diingat, kita manusia. Pernah menyakiti, tersakiti, kecewa, dan bahagia. Sekarang saatnya agak menoleh ke belakang. Ternyata kamu sudah jauh dari titik awal kamu mulai hidup. Walaupun kadang ketika berlari lalu jatuh dan akhirnya terseok-seok mencoba jalan.
Saatnya mengapresiasi diri sendiri, dan berterima kasih karena sudah mau bertahan hingga detik ini. Jangan lupa mensyukuri setiap apa yang diberikan oleh Illahi.
